Ada ribuan foto yang kita lihat setiap saat. Foto yang lama menancap di kepala kita biasanya adalah foto yang mampu menyentuh sisi terdalam dari perasaan manusia, yaitu melalui pendekatan humor, drama atau sensasi
2. Mempunyai subjek utama yang jelas
Subjek utama terlihat jelas dalam sebuah foto apabila terlihat BEDA dan menjadi pusat perhatian atau biasa disebut dengan istilah center of interest. Ada berbagai tekhnik untuk membuat subjek utama menjadi center of interest, seperti pembedaan kualitas cahaya, penggunaan warna, pematahan pola, focusing, framing, dan penempatan posisi subjek di foto.
3. Fokus terhadap pesan yang ingin disampaikan
Pesan berupa gagasan dan pemikiran si fotografer adalah roh yang menyatukan semua elemen yang termuat dari sebuah foto. Agar audiens bisa menerima pesan yang ingin disampaikan dengan baik, maka foto harus mempunyai informasi yang cukup mengenai apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana inti cerita dalam foto tersebut, yang terkenal dengan rumus 5W+1H
4. Tampil sederhana agar tidak mengacaukan perhatian
Kebanyakan foto gagal menjalankan fungsinya sebagai penyampai pesan karena terlalu banyak elemen visual tak penting yang ikut merekam, sehingga foto terlalu banyak muatan, yang justru akan menenggelamkan subjek utama.
Secara sederhana fotografi adalah alat perekam realitas secara objektif, yaitu memindahkan subjek di dunia nyata ke dalam bentuk dua dimensi secara apa ada nya. Namaun karena fotografi adalah juga perpanjangan fungsi dari mata si pemotret, maka fotografi dapat pula menjadi media penyampai gagasan, pemikiran, dan informasi yang ingin disampaikan pada audiens.
DIAFRAGMA
Bukaan atau diafragma adalah pengaturan seberapa besar lensa membuka untuk menerima cahaya. Pada kamera SLR, besaran diafragma ditunjukan oleh angka-angka sebagai berikut :
F 2,8 ; F 3,5 ; F 5,6 ; F 8 ; F 11 ; F 16 ; F 22
(Semakin besar diafragma ditunjukan dengan angka yang semakin kecil)
Diafragma berpengaruh pada seberapa dalam ruang tajam yang dihasilkan dalam sebuah pemotretan. Diafragma dengan bukaan besar (angka kecil), menghasilkan efek ruang tajam (DOF: Depth of Field) sempit.
KECEPATAN
Kecepatan adalah pengaturan seberapa lama rana/jendela kamera terbuka untuk menerima cahaya. Hal ini turut mempengaruhi efek beku tidaknya objek yang bergerak.
ARAH CAHAYA
Belajar lighting/cahaya berarti mempelajari tentang efek dari cahaya yang datang dari arah yang berbeda-beda.
1. Full Frontal
Sumber cahaya tepat dari samping kamera, yaitu di depan wajah subjek. Terlihat sedikit variasi tone dan bayangan yang membentuk efek kedalaman. Posisi ini adalah posisi paling umum yang digunakan fotografer untuk menggunakan lighting sebagai cahaya tambahan.
2. 45⁰
Sumber cahaya dari arah 45 derajat dari wajah subyek, baik dari kiri maupun kanan. Posisi ini akan menimbulkan efek kedalaman karena menciptakan tone dan bayangan. Posisi 45 derajat merupakan posisi paling umum yang digunakan fotografer untuk menempatkan mainlight (cahaya utama) ketika menggunakan sumber cahaya lebih dari satu.
3. 90⁰
Sumber cahaya dari arah 90 derajat atau tepat dai samping subjek, baik dari kiri maupun kanan. Posisi ini akan menimbulkan efek dramatis dan bukan posisi yang biasa untuk penempatan cahaya dalam pemotretan normal.
4. Backlighting
Sumber cahaya tepat di belakang subjek, menghadap lurus ke kamera. Posisi ini akan menciptakan cahaya halo yang mengelilingi kepala subjek. Unutk pemotretan tingkat advance, sumber cahaya ini bisa menjadi cahaya pelengkapan dalam pemotretan.
5. Siluet
Ketika cahaya background lebih kuat daripada cahaya yang di depan subjek, maka akan dihasilkan efek siluet. Posisi ini dalam pemotretan tingkat advance biasanya digunakan untuk memisahkan subjek dengan background.
POSISI KAMERA
1. Eye Level
Posisi normal dalam menempatkan kamera, yaitu menyesuaikan tinggi/level dari mata subjek. Posisi ini akan menghasilkan pose yang terlihat natural.
2. High Level
Posisi kamera yang lebih tinggi dari subjek akan menimbulkan kesan sendu/sedih. Perhatikan juga, kalau posisi ini juga akan membuat hidung terlihat lebih panjang.
3. Low Level
Posisi kamera yang berada di bawah subjek akan menimbulkan kesan angkuh/sombong. Perhatikan juga, kalau posisi ini juga akan membuat hidung terlihat lebih pendek.
ANGLE LENSA
1. Close-Up
Angle lensa paling dekat, yaitu sekitar wajah subjek. Biasa digunakan untuk pemotretan cover model majalah atau pas foto.
2. Medeium Shots
Angle lensa medium, yaitu seukuran separuh badan. Biasa digunakan untuk pemotretan fashion/mode atau pemotretan umum.
3. Long Shots
Angle lensa palinng luas, yaitu mencakup seluruh badan dan background. Biasa digunakan untuk pemotretan yang membutuhkan gambar subjek lengkap dengan background nya. Apabila ingin memotret dengan angle luas, perhatikan background/lokasi, karena akan sangat mempengaruhi bagus tidaknya hasil foto.
KOMPOSISI
PENEMPATAN HORIZON DAN OBJEK
Gambar
Titik perpotongan garis (a,b,c,d) merupakan tempat terbaik untuk penempatan objek. Sedang garis vertikal maupun horisontal merupakan panduan penempatan horison.
MENGONTROL KOMPOSISI
↑
← →
↓
Biasakan untuk melihat (setidaknya) empat sisi bingkai pemotretan. Lakukan seleksi elemen visual dengan ketat sebelum melakukan pemotretan
1. Kalungkan tali pegangan kamera ke leher atau bebatkan ke tangan untuk menghindari kemungkinan kamera jatuh.
2. Nyalakan kamera dengan mengubah tuas kunci ke posisi ON. Jangan lupa membuka penutup lensa kamera.
3. Pegang kamera dengan posisi telunjuk kanan siap di atas shutter dan telapak kiri menahan lensa dari bawah untuk memudahkan jari-jari tangan kiri memutar ring focus dan untuk menahan goncangan lensa agar gambar yang diambil tidak goyang.
4. Pilih obyek yang hendak anda ambil gambarnya. Obyek bias berupa manusia, binatang, tumbuhan, benda, gedung, atau pemandangan alam.
Fokuskan ke satu obyek utama saja.
5. Perhtikan komposisi dan angle (sudut pengambilan gambar) agar enak dilihat.
6. Perhatikan arah dan kuat cahaya yang mengenai obyek.
7. Atur kecepatan, diafragma, white balance, dan ISO sesuai dengan kebutuhan anda.
8. Tempatkan garis panduan lighttmeter di dalam ruan bidik hingga mendekati atau tepat di tengah-tengah lightmeter.
9. Tekan shutter setengah untuk mencari focus, jangan lepaskan, setelah obyek terlihat tajam, tekan penuh shutter untuk mengambil gambar.
Ekstrakurikulernya anak SMADA yang asyik, keren, menarik dan memuaskan. Kumpulan dari siswa-siswi SMADA yang berminat dan saat ini fokus dalam bidang fotografi dan berencana untuk mendalami tentang videografi. Yang ikutan dijamin ga bakal nyesel deh!
Kegiatan rutin SPOD:
Waktu : hari Jum’at jam 12.30 (setelah sholat Jum’at)
Tempat : XII-IA-6
Pelatih : Bpk Adhi Kusumo
Acara : pemberian materi fotografi oleh pelatih dan dilanjutkan dengan latihan-latihan anggota untuk praktek.
Kegiatan kita yang lain juga ngadain hunting foto yang nggak hanya di lingkungan SMADA tapi juga diluar, bahkan juga hingga keluar kota. Seperti saat-saat kemarin yang sudah dijadikan SPOD tempat hunting diluar kota yaitu Gunung Bromo dan Pantai Tambakrejo.
Ikutan SPOD nggak harus punya kamera, karena sekolah juga bersedia memfasilitasi kegiatan kita dengan adanya kamera sekolah untuk SPOD.
Remember, whatever the camera is, YOU are the photographer!!!